BAB II
PEMBAHASAN
a.
Potensi untuk
menemukan “pintu”-nya atau faktor (X)
Bagaimana
kita menjelaskan seorang gadis desa, anak seorang petani selepas sekolah
bekerja sebagai pelayan restoran disebuah hotel dibali dapat menjadi seorang
wirausahawan yang terhormat diluar negeri?bagi kebanyakan orang hal itu
dianggap sebuah keniscayaan.namun kalau itu dijalani dengan tekun, maka
akhirnya menusia menemukan juga “pintu keluarnya” atau sering disebut faktor
“X” yang seakan – akan datang begitu
saja dari langit.
Malcom
Gladwell (2008) yang meneliti tentang kesuksesan manusia menemukan karya –
karya besar yang dilakukan manusia ternyata tidak ditentukan oleh tingginya
skor IO yang dimiliki manusia, latar keluarga, tanggal lahir, darah biru atau
bukan, melainkan dedikasi suci dalam mencari pintu keluar dari berbagai labirin
kesulitan.Dia menyebut dedikasi itu sebagai suatu kecerdasan praktis.
Didunia
ini ada orang yang bodoh dan ada orang yang pintar.Namun, sesungguhnya ada juga
orang yang makin pintar dan makin bodoh ( Rhenald Kasali).
John
C. Maxwel dalam bukunya yang berjudul talent is never enough (2007) mengatakan
bahwa talenta atau bakat hanyalah sebuah kesempatan, tetapi untuk menjadi
“sesuatu”, bakat itu harus diasah agar ia mengeluarkan aura cahayanya dan
meneumukan pintunya/faktor (X).
b.
Bakat
”menemukan” pintunya
Setiap
orang pasti memiliki bakat, diantaranya ada bakat memimpin orang, membuat lagu
indah, menulis puisi, memijat, meyembuhkan orang, berpidato, memasak, melucu,
menyanyi, memberi semangat, berolahraga, dan sebagainya.
Semua orang
belum tentu mengenali bakatnya masing – masing, walaupun tampak banyak orang
yang tidak menyadari atau mengakui bakatnya.Bakat – bakat itu ada yang
tersempul keluar seperti buah yang menggantung dipohon.Namun, sebagian bakat
tersimpan jauh dilubuk hati sepeti bongkahan emas yang terkubur diperut bumi,
kecuali manusia menggalinya, maka ia akan ditemukan.
Demikian
pulalah dengan faktor (X) itu.Ia melekat pada diri anda masing – masing dan
baru menjadi faktor “X” kalau ia berhasil menemukan pintunya.Celakanya, didunia
ini ada ribuan atau bahkan jutaan pintu yang pasangannya berbeda.Maka, temukan
dan ketuklah pintu – pintu itu.
Sikap anda
terhadap “pintu” itu akan tercermin pada apa yang anda dapatkan.Sikap itu
adalah sebuah pilihan, pilihannya bermacam – macam yaitu :
1.
Ada yang
mendiamkan saja
Dia
adalah orang yang percaya diri dengan “bakat” –nya dan membiarkan “pintu” menemukan
dirinya.kalau dia beruntung, bisa saja dia berhasil.Namun, faktanya, sedikit
sekali orang yang berhasil menggunakan cara ini.
2.
Mengirim sinyal
positif
Orang
kedua ini sepertinya diam dan menunggu pintu mendatanginya, tetapi sesungguhnya
ia tidak diam.Dia mengirimkan signal agar “pintu” itu bergerak dan
menghampirinya.Dengan kata lain, di mengetuk “pitu” itu dengan bahasa
tubuhnya.Apakah itu penampilannya yang menarik, suaranya yang khas, dan
sebagainya.
3.
Mencari pintu,
mengetuk pintu
Orang
ketiga ini adalah orang yang kurang beruntung.Mereka sadar bahwa “pintu” itu tidak akan terbuka, kecuali mereka
mendatangi dan mengetuknya, maka mereka mendatangi sebuah pintu.Pintu itu
mungkin Cuma dibuka separuh oleh pemilik atau penghuninya.Ia tidak welcome.Anda
harus pergi mencari pintu lainnya, terus mencari dan mengetuk.Namun, begitu
berada didlam pintu itu, lagi – lagi sikap mereka berbeda – beda :
· Ada yang sudah merasa nyaman dengan berada diruag tunggu yang
membukakan pintu itu.Dia tidak mengerti bahwa dia hanya welcome diruang itu
saja.Ruang itu terlalu kecil, tatapi ia sudah merasa betah.
· Ada yang segera menyadari bahwa ruang itu sekedar ruang tunggu
saja.Kalau pintu utama tidak dibukakan, dia segera keluar mencari pintu lainnya
yang lebih welcome dan didalamnya tersimpan pintu – pintu lain yang boleh dia
ketuk dan masuk kedalamnya.
Demikianlah,
hidup adalah sebuah pilihan.Ada demikian banyak pilihan yang
tersedia.Masalahnya, apakah kita mau mendatangi pilihan – pilihan itu,
mengetuknya, dan mengambil pilihan yang terbaik.
Dalam
berwirausaha, seorang pemuda dapat diibatkan sebagai seorang yang sedang
mencari pintu.Sukses yag dicapainya adalah sebuah keberhasilan menemukan pintu
yang sesuai dengan minat dan masa depannya.Dia melawan rasa nyaman sampai benar
– benar mendapatkan jawaban yang setimpal.
c.
“X” kecil dan
“X” besar
Dengan
demikian faktor (X) tidak lain adalah sesuatu yang harus kita cari dan
miliki.Ia akan menemani siapa saja yang ingin berubah, menjadi lebih baik.Orang
yang tidak ingin berubah juga memiliki faktor “X” tetapi itu hanyalah “X” kecil
yang berarti sebuah kenyamanan.Dia sudah nyaman dengan kondisi sekarang dan
tentu saja hidupnya tidak akan mengalami kemajuan.
Untuk
mengalami kemajuan, seseorang harus berani berselancar pada gelombang
ketidaknyamanan.Entrepreneur adalah orang yang merasa hidupnya kurang nyaman,
terancam, miskin kurang bermakna.Maka dari itu, dia berjuang mengejar kenyamanan
baru.Dia bergerak, berjalan, berpikir, mengetuk pintu, mengambil resiko,
mencari produk, membuat, membangun usaha, mendatangi pelanggan, dan
seterusnya.Kalau dia diam atau menikmati warisan orang tua, ia sudah bisa hidup
nyaman.Namun, ia ingin masa depannya lebih baik.Daripada hidup susah nanti,
lebih baik sulit sekarang.Dia tidak memilih hidup nyaman dengan “X” kecil
warisan, melainkan membentuk “X” besar.
d.
Identifikasikan
Faktor “X”
“X”
besar ada ditangan orang dewasa, yaitu orang – orang yang sudah memiliki
kepercayaan pasar.Sedangkan “X” kecil ada pada diri kita masing – masing.Bentuk
“X” pun macam – macam.Ia didapat berasal dari diri anda sendiri, orang lain,
lembaga lain, dan sebagainya.
“X”
yang berasal dari diri anda sendiri itu adalah bakat (talenta), kerja keras,
kejujuran, kecerdasan, keterampilan, penampilan fisik anda, kualitas suara, dan
pendidikan.Orang – orang yamg memiliki potensi dari dalam dirinya tidak boleh
mengeluh karena semua potensi itu adalah modal yang jauh lebih bernilai dari
sekadar modal uang, dengan ketekunan, “X” kecil itu dapat ditumbuhkan menjadi
“X” besar.
Namun,
“X” kecil itu bisa saja tak menjadi besar kalau ia tidak menemukan
pintunya.Sebaliknya, orang – orang yang tak memiliki potensi berasal dirinya
dapat menunggang “kuda” yang berasal dari orang lain atau lembaga lain.
Syarat untuk
menjadi kuda adalah “kepercayaan” dan “penerimaan” pasar.mereka adalah orang –
orang terpecaya yang sudah memiliki “X” dari pengalaman, keahlian, dan
kepercayaan yang mereka bangun.
Karakteristik
faktor “X”, yaitu:
1.
Merupakan
penentu keberhasilan,
2.
Merekat pada
diri manusia,
3.
Tidak diperoleh
dalam waktu sekejap,
4.
Namun, ia dapat
tumbuh dan berkembang menjadi “X” besar,
5.
Dapat berasal
dari diri sendiri, tetapi juga dapat berasal dari luar diri,
6.
Sekali tumbuh,
ia dapat dipakai untuk usaha lainnya.
e.
Tidak dapat
dirampas
Karena
melekat pada diri anda sendiri, maka ia harus dipelihara.Banyak orang berusaha
merampas “X” itu dengan merampas “kuda – kuda tunggangan”yang dimiliki
seseorang.Padahal “X” itu merupakan kombinasi dari berbagai hal yang melekat
pada seseorang.
Pada
dasarnya, sebuah usaha bukanlah semata – mata bisa membuat atau menghasilkan
sesuatu lebih baik.Sebuah usaha baru berhasil bila anda berhasil mendatangkan
pelanggan.Jadi, faktor “X” itu bukan berada ditangan orang lain, melainkan pada
usaha anda sendiri.
Tips praktis
a.
Kenalilah diri
anda sendiri dan mulailah menimbulkan “X” pada diri anda.
b.
Carilah pintu
yang membuat “X” anda tumbuh.Datangilah dan ketuklah masing – masing pintu itu.
c.
Pintu yang
bagus adalah pintu yang yangdidalamnya terdapat ruang besar bagi anda untuk
berkembang dan didalamnya terdapat pintu – pintu lain yang dapat anda buka.
d.
Waspadailah
hidup yang nyaman karena hidup yang demikian dapat membuat hidupmu sulit.
e.
Pintu yang
tepat adalah pintu yang membuat anda merasa mampu untuk tumbuh dan memberi
ruang untuk berkembang.
No comments:
Post a Comment